Wednesday, March 14, 2012

Kenapa Namanya Bajaj?


Kami sampai di Sapulidi, semua makanan yang kami pesan, 13 macam, sudah disajikan. Azwardi datang, menyusul langsung dari Jakarta sendirian, dia agak menyesal nggak ikutan trekking.
Azwardi, Budi, Deden, Ady, Willem, O, Syamsi, Aria

Edi Bajaj, yang bernama asli Edi Wiharnoko, belum datang menjadi bahan pembicaraan. Kawan kami yang satu ini biasanya senang membuka dua kacing atas bajunya, sehingga bulu dadanya yang lebat dan hitam bisa terlihat dengan jelas. Kebiasaan itu sudah nggak bisa dilakukan sekarang soalnya bulu dadanya sudah putih beruban.

Aku penasaran mengapa dinamakan Bajaj.
“Yang tahu Azwardi tuh!”, Budi menjelaskan.
“Tapi jangan bilang-bilang, nanti Bajaj marah sama gue”, jawab Azwardi.
“Hati-hati Az, ada Chormen nanti dimasukin blog”, kawan-kawan mengingatkan.
“Kalau dimasukin blog sih nggak apa-apa”, jawab Azwardi lagi.

Azwardi asyik bersemangat bercerita, aku asyik menjamah makanan, kali ini giliran ikan asin, sedap, sekalian soto Bandungnya ah.
 Bajaj berdiri paling kiri
Ratih Puspawati likes this.

Alkisah Azwardi yang selalu berkawan dengan Bajaj, saat di kelas sebelumnya, 1 IPA 8. Seperti biasa mereka suka nongrong di depan sekolah, eh, mereka melihat ada tukang bajaj lagi mangkal, wajahnya mirip Edi, maka dinobatkanlah Bajaj sebagai nama ngetop Edi.

Ternyata nih, Smandel sebagai sekolah terbaik di Indonesia ada juga muridnya yang kayak tukang bajaj.

Saturday, March 10, 2012

Arti Sebuah Nama

Kisah nilai ujian Nursyamsi Kurnia '81 dinego wali kelas

Walaupun sudah lebih 30 tahun berpisah suasana gila Apadela, 2 IPA 8, masih tersisa di kepala, makanya Andrina mengadakan acara Temu Jidat Apadela: Kongkow Bandung. Waktu Andrina bertanya, “Pesertanya disuruh bayar berapa?”.
Aku jawab aja, “Gratis”.
“Nggak ah!, harus bayar!”.
“Ya udah, bayar gocap”.

Rio menepati janjinya datang ke Gedung YTKI sebelum kami berangkat, penampilannya masih necis seperti 30 tahun lalu, zaman di SMA baju seragamnya nggak pernah keluar dari celana, sebentar-bentar dirapikan. Dia memakai topi dan nggak pernah dilepas sampai kami berangkat, Ady si anak mama berkomentar, “Jangan-jangan udah botak”.

Bersama Nursyasi, Rio, Willem, Budi, Uun dan Tatik

Nursyamsi datang dengan membawa payung besar warna-warni dan ransel berisi jas hujan, “Kata panitia disuruh bawa payung dan jas ujan, ya aku bawalah!”, dan dia satu-satunya peserta yang membawa perlengkapan itu, panitianya aja nggak.

Bis baru masuk gigi 1, suasana gila dimulai, buka-buka rahasia, ketika Syamsi membaca daftar nama dan alamat 2 IPA 8, dia bilang, “Men, kalau Syamsi itu nama aku kelas 3, waktu kelas 1 dan 2 namaku Nursyamsi, di ijazah namaku juga Nursyamsi”.
“Kok, elo ganti-ganti nama.???”.


Nursyamsi mulai bercerita. Kalau dia sering bilang lupa, harap maklum aja ingatannya nggak jauh. Coba bayangkan kelas berapa aja dia lupa, wali kelasnya siapa dia lupa, pacarnya di SMA aja dia lupa, malahan dia pernah bertanya, “Men, dulu yang aku pacarin siapa ya?”. Kelewatan!. Jangan-jangan dia bukan anak SMA 8.


Saat di kelas 3, dia sekelas dengan Sugiarto Jaya, orang paling pinter di angkatan 81. Nah, dengan menggunakan nama Syamsi Kurnia, daftar hadir Nursyamsi persis di bawah nama Sugiarto. Otomatis waktu ujian dia berdekatan dengan Sugiarto.
“Logika aku dari dulu juga udah jalan!”, Nursyamsi melanjutkan.
Kamipun tertawa melihat gaya bicaranya yang lucu.

Keberuntungan berpihak kepadanya, saat ujian akhir posisi bangku Nursyamsi persis di belakang Sugiarto, mantap!.


    • Willem Teddy Usmany Ayo Apadela kita naik2 kepuncak gunung.
      Msh kuat sprti 30 th lalu. Hehehe....!!
Seminggu setelah ujian berakhir dia dipanggil wali kelas, karena hasil ujiannya sangat mencengangkan, nilainya fantastis.
“Syamsi melihat hasil ujian, kamu punya 2 pilihan”, kata wali kelas, “Ujian kamu diulang atau nilai ujian kamu dikurangi 2 semuanya”.

Dijatuhi 2 pilihan seperti itu Nursyamsi tetap bersikap tenang, jawaban kepada wali kelas enteng aja, “Jangan dong pak ujiannya diulang, kalau nilai di ijazah bapak atur-atur aja deh!, yang penting saya lulus”.

Kongkow Bandung

Buat photographer sebuah gambar bisa berbicara lebih dari sejuta kata, aku coba deh kalau begitu. Kali ini aku tidak menulis tetapi menggabungkan gambar menjadi cerita ditemani sahabatku Phil Collins yang melantunkan True Colors.

Terus terang bukan aku yang buat tetapi Karra si sulung, dia pernah menawarkan untuk membuatkan video clip. Empat hari setelah Kongkow Bandung tangannya menengadah, aku menangkap maksudnya, aku serahkan flash disc dari Aria berupa 172 foto.

Nggak semua foto bisa dimuat, aku pilihkan beberapa, komentarnya kepada mamanya,” Ma, yang nggak ada papanya fotonya dicoret”. Sengaja aku tulis kalimat itu untuk sekedar mengingatkan kalau motret ngajak-ngajak.

Soul dari video clip ini sederhana aja, “Smandel nan kompak”. Enjoy the show, keren kok!



Friday, January 27, 2012

Assalamualaikum Pak Haji


Aku rajin banget mengumpulkan alamat dan nomor telpon, hasilnya banyak kawan angkatanku melakukan reuni kelas. Pernah aku ditelpon Manca yang kelasnya mau reunian di rumah Erlinawati di Bogor.
“Men, dateng dong reunian di Bogor”.
“Gue kan bukan kelas 2 IPA 6”.
“Tapi kan elo anggota kehormatan 2 IPA 6”.
Sayang aku nggak bisa ikut gara-gara sakit typus, penyakitnya orang miskin.

Lain halnya dengan urusan foto lama, harapanku hampir pupus. Baru akhir tahun lalu ketika aku mampir di rumah masa kecilku, tiba-tiba kakakku Lela bilang, “Men, itu ada 3 album SMA aku tarok di pojokan ruang tivi”.
Aku buru-buru melihatnya. Satu album berisi naik gunung dan kemping bersama Apadela (2 IPA 8 ’81 dan 1 IPA 8 ’82), satu album reuni dan close-up kawan-kawan 2 IPA 8 dan satu album campuran. Sudah tentu aku seneng banget.

Aku lapor kepada kawanku, Apadelaers, mereka pada mau melihat. Ditetapkanlah tanggal 27 Januari 2012 pakai upacara makan-makan segala. Sungguh sayang bertepatan dengan demo buruh di Cikarang, jadi banyak yang terjebak macet, alasan yang bisa diterima. Aku sendiri meminta anakku nggak langsung pulang, kasihan mereka kalau terjebak macet, bisa BeTe, biar mereka pulang agak maleman bareng bapaknya.

Seru banget melihat foto lama bareng-bareng.
“Men, yang ini Benny siapa namanya, di kelas kita kan ada 2 Benny”, Uun bertanya
“Benny Respati”, jawabku sekenanya.
“Bukan Benny Respati. Kalau Benny Respati mah gue inget. Benny yang satunya lagi”.
Kami semua mendekat.
“Yang ini nih!”, Uun melanjutkan,sementara aku senyum-senyum kecil.
“Itu mah gue”, Benny Krisyanto menjawab.
“Oh iya elo. Nama elo siapa? Maksud gue Benny siapa?”, tanda-tanda uzur telah tiba.

Lain Uun lain pula Syamsi.
Syamsi telpon setelah aku menjemput Karris, my son, di jalan Cut Mutia, jadi ingat sop buntut. Nada suaranya sopan banget, “Assalamualaikum pak haji”.
“Waalaikum salam, Syamsi elo nggak kesana?”
“Justru itu pak haji, aku telpon. Aku nggak tahu ancer-ancernya”.
Akhirnya Syamsi sampai juga setelah mendapatkan arahan dariku. Ada Syamsi pasti ribut. Dia termasuk jenis manusia langka, punya hape enam biji tetapi tak satupun namaku di phone book-nya.
Tanpa merasa berdosa dia bilang. “Men, minta nomor hapenya dong!”.
“Lah, tadi kan elo nelpon gue”.
“Nggak ah, perasaan nggak pernah”.
“Tadi kan elo nanyain tempat ini”.
“Ooohh …., yang aku panggil pak haji ya?”.
“Tumben elo tadi manggil gue pak haji”.
“Jadi Omen ya yang aku panggil pak haji, aku pikir yang tadi aku telpon ustad Rory”.

Thursday, April 1, 2010

Ulang Tahun Edi Kumis

Seusai bel sekolah kami tidak lantas berhamburan pulang tapi berkumpul untuk berangkat bersama ke rumah Edi Kumis merayakan hari yang istimewa. Terntu saja kami mengajak ketua kelas Apadela alias 2 IPA 8.
“Wan kok elo pulang nggak ke rumah Kumis?”
”Gue pulang dulu dong! Mandi dulu baru biar keren kan Kumis ulang tahun”
Iwan lantas mengendarai motor vespa kesayangannya pulang ke rumahnya di Halim.
Kami beramai-ramai naik Metromini berwarna oranye menuju perumahan Bullet Warehouse alias Gudang Peluru.

Di rumah Kumis kami bercengkrama sampai puas walaupun tidak ada acara tiup lilin. Tapi kok si ketua kelas yang ditunggu-tunggu belum nongol juga.
Bercanda sudah bosen dan hari sudah petang, kami beranjak pulang sebelum peteng, tanpa diduga datang vespa persis berhenti di depan rumah Kumis dengan pengendara yang necis banget, maklum cuma dia sendiri yang sudah mandi dan nggak pakai seragam, keharuman minyak wangi si nyong-nyong menebar semerbak. Kedua ujung bibirnya ditarik ke atas, ceria banget kelihatannya.
“Wan, ngapain lo keren-keren amat!”
”Kan Edi Kumis ulang tahun!”
“Kena dikibulin satu kelas lo! Hari ini kan April Mob!”
Tak sampai sedetik kedua ujung bibir Iwan mengarah kebawah, kecut banget mukanya, keki banget pastinya, bayangkan ketua kelas dikerjain kawan-kawan sekelas. Kalau mau dibuat komplit pasti ada sebel, marah, malu dan teman-temannya hadir semua.

dakika: Uun, Ade, Tri, Nia, Fiera, Ratih, Dicky, Iwan, O, Ai, Benres, Adi, Deden

Masih dengan muka cemberut Iwan menghampiri biang keladinya, memang tidak sulit mencarinya karena semua telunjuk mengarah kepadaku.
“Men, biar April Mob kalau bohong tetep dosa! Pokoknya nggak gue maafin seumur-umur!”

Ketika aku ingatkan cerita 30 tahun lalu ini, kamipun tertawa bersama.
“Engak kok Men! Gue udah maafin dari dulu! Gue dulu sebagai ketua kelas kayaknya dikerjain terus sama elo!”


Buat Chormen yang nakal,

Kalau dipikir-pikir lucu juga loe yah, he he he. ( waktu itu Gw binggung, masa undangan Ulang Tahun ngak ada makanannya ?, waktu itu gw juga belum tahu, makhluk apa itu Aprilmob).
Jaman dulu Chormen suka jailin orang tapi sembunyi badan, korbannya pasti nggak cuma satu, siapa lagi Men ?
Ayo Men cerita lagi, biar kita bisa tambah inget lagi.
Temen-temen yang merasa jadi korban Chormen dimasa lalu, dapat mengadukan kasusnya kepada moderator, pengaduan dilayani 24 Jam setiap harinya.

salam,
himawan

Monday, January 19, 2009

Rebutan Isi Ransel

W.B. Iriansyah '83

Masa penjurusan di I 8 di tahun 1980 telah berlalu, saya masuk ke jurusan IPA dan beruntungnya masuk I IPA 8. Pada suatu pagi saat istirahat pertama, Benny Gaok beserta beberapa temannya secara informal bertanya kepada kami sekelas apakah ada yang mau bergabung masuk APADELA untuk ikut mendaki Gn. Gede pada hari Sabtu menjelang. Saya W.B Iriansyah atau biasa dipanggil Ian saat itu langsung setuju ikut pendakian, karena memang saya suka mendaki sejak SD (1976) dan juga sudah mengenal Benny beberapa tahun sebelumnya. Dari seluruh kelas I IPA 8 (angkatan 1983) hanya saya yang ikut serta.


Pada Sabtu yang ditentukan setelah pulang sekolah, saya ke rumah Benny Gaok di bilangan Tebet. Seperti biasa "anak2 gunung" pada tahun 70an dan awal 80an selalu menumpang truk gratis dari lampu merah Cililitan sampai ke Cimacan dan langsung ke Cibodas.

Setelah berdoa mulailah kami mendaki dari Pos di luar Taman Cibodas (kalau tidak salah pendakian dari dalam Taman Cibodas harus memiliki ijin dari PPA sejak 1978). Beberapa saat setelah melewati Kandang Batu, rombongan kami menemukan sebuah ransel besar yang ditinggal begitu saja di atas batu, setelah menunggu sejenak siapa tahu ada rombongan lain sebagai empunya ransel, kami pun mulai membedah ransel, beberapa tangan masuk ke dalam ransel termasuk saya dan Benny. "Ini buat gue" ujar Benny sambil memegang sweater dengan kualitas baik dan pasti mahal harganya, sedangkan yang lain mengambil jaket parasut. Giliran tangan saya masuk ke ransel langsung terasa sebuah botol dan saya ambil, "Yang ini buat gue" ternyata sebotol Martini yang masih utuh.

Beberapa anggota rombongan meminum Martini untuk mengusir rasa dingin dan disisakan 3/4nya. Karena saya yang memegang, maka sepanjang pendakian saya minum terus sampai habis yang menyebabkan saya mungkin agak mabuk (ya pastilah 3/4 botol Martini sendirian..hahaha). Saya baru benar tersadar saat sampai di Air Panas, Benny mulai mengikat pinggang kami satu persatu dengan tali yang terhubung satu dengan lainnya , sambil berujar "Hati-hati ya...badan condong ke kiri"...Air Panas dengan batuan yang licin...kalau jatuh ke sisi kanan berupa jurang pastilah "Good Bye" jadi saya fully konsentrasi, untuk menghilanglah pengaruh alkohol, ini urusan nyawa bung.

Dina Malik wrote at 19:02 on 27 February 2009
I can't get no....
Ian Gomper wrote at 20:00 on 27 February 2009
Inget aja loh...hehehe yes... no satisfaction....hahaha
Prahashinta Dewie wrote at 23:24 on 05 July 2009
Ooohh ini tho wajah Ian G....ya..ya..gw inget deh
Ian Gomper wrote at 23:26 on 05 July 2009
Ya iyalah Chin...sptnya satu kelas di 2ipa10 ya...

Setelah melewati Tanjakan Akar (sekarang oleh tim SMANDEL PAS 50 dinamakan Tanjakan Setan Ngehe), sampailah kami di puncak Gn. Gede, kami berkumpul menantikan Matahari Terbit sambil saling meledek dan bercanda.
Saat Matahari naik cukup tinggi, Benny memimpin Doa Bersama untuk keselamatan, "Oke kita sekarang turun" kata Benny sambil menunjuk ke arah Bibir Kawah.
Bibir Kawah...?? "Ben kita turun ke mana" tanya saya (biasanya saya naik Gn. Gede turun melalui rute yang sama yaitu Cibodas). "Cipendawa lewat Surya Kencana...ayo berangkat" jawabnya. Saya ikut saja.... sejurus langkah saya baru menyadari kenapa ada acara Doa Bersama lagi...ternyata perjalanan menuju Surya Kencana membuat nyali ketar-ketir...jalan setapak (lebar 50cm) sisi kiri kawah...sisi kanan jurang leher kawah...ditengah jalan kami sempat tiduran di sebuah ceruk yang hanya muat untuk satu orang...anginpun menerpa cukup kencang membuat badan kadang condong ke kanan dan kiri.

Tapi perjalanan meniti bibir kawah tidak percuma, semua terbayar dengan pemandangan spektakuler Surya Kencana...dari atas, bagi saya Surya Kencana bulat putih seperti bekas UFO mendarat. Kamipun mengambil sejumput kecil Edelweiss untuk kenangan. "Ambil sedikit aja, masukin kantong celana" ingat Benny

Di Pos Cipendawa bawaan kamipun diperiksa, tapi karena kami simpan di celana dan cuma sedikit, maka loloslah rombongan dari pemeriksaan. Tetapi terkejut kami ketika ada rombongan (sebuah sekolah di Jakarta- tidak etislah menyebut namanya..hehehe) menanyakan apakah kami menemukan sebuah ransel di perjalanan yang mereka tinggal karena tidak kuat untuk membawanya. Keruan dengan kompak kami menjawab tidak..hehehe...ya sudah..menurut hukum internasional harta karun yang berada di perairan internasional kan milik penemunya...ya kan...ya kan hahahaha.

Begitulah sedikit pengalaman saya dengan APADELA yang membuat saya dapat melihat dan menjejakkan kaki di SURYA KENCANA.

NB : Bagi yang merasa ikut rombongan pendakian ini dan punya fotonya boleh berbagi dengan saya

Thursday, December 18, 2008

Bolos di gunung

Kami pernah mendaki bersama anak manja yang dikibulin kalau naik gunung itu enak, nyatanya tidak sesuai dengan harapan. Sejak dari Kandang Badak sampai puncak Gede Pipin nggak berhenti membujuk si anak manja berjenis kelamin perempuan yang tiada henti menangis.
Namun ketika kaki menginjakan puncak tangis berubah menjadi keceriaan, terlebih di alun-alun Surya Kencana tempat Edelweis bermekaran.
Sang tangis muncul kembali selepas meninggalkan Surya Kencana sampai keluar hutan, kegelisahan bertambah karena kami turun seolah di negeri entah berantah. Suara orang mengaji memberi semangat, mesjid pasti, sampai ke sumber ternyata 2 pendaki yang juga kesasar, diperparah dengan anak baru yang mogok jalan.

Kami terpaksa membuka 2 bivak sementara 2 pendaki kesasar dan seorang rekan mencari bantuan. Setan alas apa yang merasuki sampai di perumahan penduduk 2 pendaki langsung pulang dan rekan kami asyik tidur di ranjang.
Di tepi hutan kami kehabisan makanan, minuman, batere, jadilah malam itu kami kelaparan, kehausan dan kelaparan.
Dinginnya malam semakin mencekam kala longlongan srigala hutan terdengar garang, cuacapun tak mau kompromi hujan deras melengkapi udara dingin yang membekukan kaki, ketika kutekuk lurus sendiri. Tidak tidur kami pasti, sementara si anak manja tidur nyenyak sendiri.
Saat aku kehausan Boni menyodorkan verplesnya, kurasakan kesegaran air hujan yang ditampungnya.
Bada subuh serombongan penduduk datang mencari bersama temanku yang semalaman tidur di rumah penduduk. Ternyata jarak ke perumahan penduduk dekat sekali. Jadilah hari Senin kami semua bolos sehari.
Umpatan kapoknya naik gunung tidak henti, anehnya semakin mengumpat kecintaan kami mendaki gunung semakin menjadi.