Tuesday, December 2, 2008

Hantu Gunung

Seperti biasa sebelum naik gunung kami makan malam bersama di Cibodas di warung nenek Komeng atau di warung ibu Janda. Kali ini giliran nenek Komeng rasanya.

Cerita yang paling populer kala itu adalah hantu gunung yang suka meminjam wajah orang yang naik gunung. Begini detailnya ada seorang pendaki yang turun gunung mampir di warung untuk makan, si penjual bertanya bahwa si pendaki semalam yang makan di warung, tentu saja dia menyangkal karena semalam masih mendaki gunung. Timbullah cerita bahwa ketika si pendaki tidur wajahnya dipinjam hantu gunung untuk berkeliran sebagaimana layaknya manusia.

Kali ini sambil menunggu teman-teman yang berjalan agak lambat, kami beristirahat di Kandang Batu, ada yang berfoto-ria ada juga yang mencoba untuk tidur untuk menghilangkan kepenatan.

Akupun mencoba untuk tidur, tapi teman-teman mengingatkan, entah menakut-nakuti, entah memang perhatian “Men, hati-hati kalau tidur jangan sampe muka lo jadi polos karena dipinjem hantu”.

Yang ada aku jadi nggak bisa tidur karena sebentar-sebentar merabah muka, polos apa nggak? Takut dipinjam hantu gunung. Ngehe!

Nyari wangsit untuk ulangan Fisika

Setelah terbukti bahwa naik gunung bisa membuat ulangan kimia dapat nilai bagus, kali ini banyak yang mau ikutan naik gunung sambil belajar Fisika dengan maksud supaya ulangan Fisika hasilnya bagus.

Yang gue ingat naik gunung kali ini Aria, Deden, Ady anak mama, Pipin, Agus poncho, Erico keong, pokoknya banyak deh.

Sambil naik gunung mereka belajar semua, mungkin karena grup belajarnya kebanyakan yang ada mereka bukan naik gunung sambil belajar tetapi naik gunung sambil becanda.

Sisa capeknya naik gunung masih terasa, hari Senin harus menghadapi ulangan Fisika pak Ruhanta, dan hasilnya ......................... ancur lebur, yang naik gunung cuma gue yang hasilnya bagus.

Buat yang nggak naik gunung dapat nilai jelek bilang “Tau gitu gue naik gunung”.

Sementara Deden yang naik gunung dapat nilai jelek bilang
“Men, kata lo kalau naik gunung nilainya bagus, ternyata ancur juga tuh”
“Kalau naik gunung nilai Fisika lo jelek jangan salahin gue dong! Tapi ................. salahin gunungnya”

Saturday, November 1, 2008

APADELA, Persahabatan Lintas Kelas dan Angkatan

Banyak di antara kita mengenang saat SMA sebagai masa paling menyenangkan, persoalan hidup berlum terlalu dipikirkan, kecuali tentang PR itupun kalau mau dipikirkan. Bagi kami, masa ini lebih dominan dalam pikiran untuk mengisi akhir pekan demi akhir pekan dengan pendakian gunung.

Yah, tanpa dinyana di SMA dulu kami membentuk suatu perkumpulan informal mendaki gunung di Smandel dengan sebutan “APADELA”, kependekan dari Anak IPA Delapan. Tanpa sengaja dan tentu menjadi kebangaan tersendiri, bahwa kami yang yunior kelas 1 SMA duduk di kelas 1 IPA 8’82 dapat diterima dalam Pertemanan yang baik dan sejajar dengan kakak kelas kami yang duduk di kelas 2 IPA 8’81. Pertemanan antara dua kelas berbeda angkatan seperti ini barangkali termasuk fenomena yang langka.

Pasalnya, bukan waktu itu saja karena kedua kelas kami di Smandel yang bertetanggaan, tapi juga terlebih lantaran hobi kami yang sama dalam mendaki gunung hampir saban minggu itu. Dari situlah kami kemudian mengikrarkan diri menjadi Apadela.

Setiap minggu dengan berbagai cara kami “bermain” di Cibodas menunggu saatnya mendaki atau terkadang hanya bermain rugby dengan bola plastik. Di sini tentu anak-anak Apadela menjadi tidak sendiri. Pasti ada teman-teman Smandel lain yang lebih senior pula, satu atau beberapa tahun di atas gerombolan Apadela.

Sesungguhnya anak Apadela tidak juga berarti eksklusif, apalagi berminat menyaingi Puapala. Dulu di Smandel selalu ada dua kali perkemahan sekolah maka Apadela pun akan asyik dengan kesibukan masing-masing sebagai Panitia Perkemahan tersebut. Salah seorang anak Apadela, Himawan, bahkan menjadi Ketua Puapala.

Beberapa yang lain asyik mendaki gunung di tempat yang lebih jauh dari “sekedar arena bermain” gunung Gede-Pangrango. Misalnya suatu saat saya dan beberapa teman mendaki marathon/ sekalgisu ketiga gunung Slamet, Sumbing, dan Sindoro, di Jateng. Rombongan kali ini tentu tidak semuanya dengan anak Apadela, tapi kami perginya dengan Yoyoi, Bambang Ragil, Sri Umbul, dan Chonon, orang yang paling SMA 8 dibanding anak Smandel yang sebenarnya. Kali yang lain kami dengan beberapa teman Apadela plus sempat mendaki gunung Semeru di Jatim.

Romantisme Apadela tidak lepas juga dari persoalan remaja pada umumnya. Pacaran “incest”, begitu kami menyebutnya. Hebatnya lagi, sang cowok kelas 1 IPA 8 dan ceweknya 2 IPA 8. Ehm, benar-benar bukti kesetaraan pertemanan lintas-angkatan yang langka…


Jakarta, Oktober 2008
Sulistia Pribadi the Apadelaer