Saturday, March 10, 2012

Rugby


Tanpa terasa 2,8 km jalanan menanjak telah kami lalui, sekarang kami sudah di bibir hutan pinus bersama serombongan anak-anak, calon pengganti Lionel Messi, tengah pemanasan untuk bermain sepak bola dengan seorang pelatih muda calon pengganti Jose Mourinho, the special one.


“Jadi inget main rugby, seru banget!, elo masih inget nggak?”, semua lelaki Apadela bilang begitu. Siapa sih yang bakalan lupa peristiwa 32 tahun lalu, peristiwa yang selalu dikenang seumur hidup kami. Itu juga kalau kami belum pikun.

Satu jam pelajaran Olah Raga telah kami habis di aula, lantai 2 di atas laboratorium, berlatih senam bersama bapak Ugi, satu jam berikutnya kami diberi kebebasan memilih. Anak perempuan mengambil lapangan volley, anak laki main basket. Karena lelakinya lebih dari 20 orang nggak mungkin dong main basket bareng, dibuat 2 kelompok, sepuluh orang jagoan main duluan satu babak.

Sisanya kawan yang kurang pinter main basket, omongan mereka nyelekit banget, “Palingan nggak gantian, kita duduk terus nih sampe bel istirahat”. Mendengar selentingan seperti itu, aku nggak bisa pura-pura budek, “Ya udah semuanya masuk lapangan kita bikin 2 kelompok, kita main rugby”.

Dari Buku 50 Tahun Smandel
Aku suit melawan Arian, aku menang. Gampang banget mengalahkan Aria, dia kalau suit yang keluar selalu telunjuk duluan, “Ayo suit, yang menang ikut gue, yang kalah ikut Aria”. Deden suit melawan Iriana, hasilnya Iriana ikut aku.

“Mainnya gimana Men?”, pertanyaan yang lumrah, maklum belum pernah dimainkan di Smandel selama ini.
“Gawangnya di antara 2 ring basket, kita masukin aja ke sana”, zaman dulu tiang ring basket nggak cuma satu.
“Oke, mulai deh”, kawan-kawan mulai bersemangat.
“Eh, tunggu dulu!, ada 1 aturan lagi!, yang kebobolan duluan harus buka baju sampai bel istirahat”, aku paling demen bikin aturan yang aneh-aneh. Mereka pada tertawa.

Apadela vs Apadela, 2 IPA 8 vs 1 IPA 2

Bola basket dilambungkan ke udara, tanda dimulainya permainan, Iriana membobol gawang lawan. Dengan sportif tim lawan membuka kaos olah raga, kini mereka bertelanjang dada, kerempeng semua.

Permainan dimulai lagi, makin lama semakin seru, saling tarik-tarikan, dorong-dorongan, injak-injakan, piting-pitingan, dan teriak-teriakan. Semuanya tertawa, nggak ada yang (boleh) marah, ha ha ha …

Lima menit sebelum bel datang usulan, “Men, udahan dong, 5 menit lagi bel, nggak enak nih nanti dilihatin orang-orang”, karena sudah banyak kelas lain yang nonton di pinggir lapangan.
“Eit …., nggak bisa! Perjanjiannya sampe bel istirahat”.

Bel istirahatpun berbunyi, kawan yang bertelanjang dada memungut kaos olah raga mereka di pingir lapangan berlarian dan berteriak menuju kelas di lantai 2, gaduh sekali. Sementara pak Ugi geleng-geleng kepala di kejauhan.


Seminggu kemudian sebelum olah raga pak Ugi memberi briefing, “Belum pernah saya melihat kelas sekompak kalian, kekompakan modalnya kemenangan dalam pertandingan, saya yakin kalian selalu menang dalam pertandingan, tapi olah raganya jangan yang kayak kemarin, apaan tuh … olah raga nggak karuan kayak gitu!”, disambut dengan derai-tawa kami.

Pernyataan pak Ugi memang terbukti, kami menjadi juara umum class meeting, hebat nggak tuh!.

Aku senyum-senyum sendiri kalau membayangkan peristiwa itu, namun ada sedikit penyesalan, mengapa waktu itu aku nggak bikin aturan buka bajunya sampai bel pulang, bisa-bisa mereka belajar sambil telanjang!.

Ketika Nyawa di Ujung Akar


Menuju bibir hutan pinus kami berjalan perlahan, beberapa kawan wajahnya memutih bukan karena krim pemutih tetapi karena mukanya pucat kekurangan oksigen, cerita pendakian tempo dulu bersama Apadela mencuat.
Willem Teddy Usmany Maju terus Apadela...!!

Seperti biasa ketika turun gunung aku bersama Aria selalu bersama, kali ini kami menyapu Pipin dan Ita. Nggak seperti biasa Deden turut menemani. Turun gunung sambil makan coklat dan cemilan bawaan Pipin dan Ita enak banget sehingga mengundang Deden berkomentar, “Pantesan elo sama Aria kalau turun belakangan melulu! Makanannya enak-enak”

Selalu kami mencoba jalan yang belum pernah dilalui, “Simpangan pertama belok kanan, belokannya nggak jelas karena jalannya baru”, pesan teman yang jalan di depan.

Kini kami berada mungkin di simpangan yang dimaksud.
“Bukan jalannya!” kata salah seorang dari kami.
“Tadi Sulis bilang jalannya nggak jelas!” Aria berargumen, “Ya udah kita coba! Gue sama Deden turun. Men, elo jagain Pipin sama Ita. Belatinya elo pegang, kali-kali ada apa-apa”, seraya Aria memberikan belati stainless steel buatan Jerman kalau gagangnya diputar 180 derajat bisa berubah jadi pisau. Keren banget!.

Aria dan Deden menuruni “jalan baru” yang cukup terjal, Aria sedikit berpesan “Kalau 10 menit gue nggak balik lagi artinya ini jalan bener! Nanti elo nyusul!”

Tak berapa lama terdengar teriakan Aria dari bawah, “Men, jangan turun! Disini jurang bukan jalan! Jalan yang tadi gue turunin nggak ketemu, elo dimana?”

Pipin, Ita da aku bergantian memberikan petunjuk posisi kami, Aria dan Deden berusaha kembali berpedoman suara kami.

“Tinggal dikit lagi!”, suara Aria berkumandang, “Men, gue nggak bisa naik lagi karena nggak ada yang bisa dibuat pegangan, turun juga nggak bisa karena dibawah gue jurang. Tolongin gue! Gue udah kecapean”.

“Lari Men, kejar yang turun duluan”, Pipin meminta dengan suara panik.
“Percuma Pin, mereka lari. Kalaupun terkejar naiknya lagi lama”

Dalam kondisi seperti kuncinya Jangan Panik!.  Aku melihat sekeliling. Jaket ada 3 kalau dibuat tali nggak cukup. Tenang! Pikir lagi!.

Ini dia! Kulihat seutas akar muncul ke permukaan tanah mungkin karena erosi, akar yang panjangm melingkar-lingkar sebelum masuk kembali ke dalam tanah. Aku tarik kira-kira panjangnya 5 meter, aku cabut ujungnya, tidak kuat. Untung ada belati bagus buatan Jerman. Memotong ujungnya sulit sekali karena sang belati ternyata tumpul dan akarnya alot.
Berdiri dakika: Agus, Erico, Deden, Willem, Darius, Pipin, Umbul, ?
duduk dan nungging: Ade, Aria, Jidong, Sulis, Azwardi, Pacet, O, Gaok, Dedi

“Sebentar, Chormen lagi motong akar!”, suara Pipin menenangkan Aria dan Deden.
“Buruan Men, pohon kecil yang gue pegang takut nggak tahan lagi”, Aria melaporkan.
“Men, gue tau elo suka becanda, tapi jangan gue udah mau mati elo juga masih becanda”, pinta Deden memelas.
“Belatinya tumpul!”, reportase Pipin akurat.
“Jangan becanda Men, buruan!”, kini giliran suara Aria.
“Men, gue udah nggak tahan lagi! Di bawa gue jurang”, Deden masih memelas.

Setelah 3 menit akhirnya akarpun putus, aku tarik untuk menguji kekuataan sebelum kulemparkan ke jurang. Akar berpegang erat pada pangkalnya.

“Den, elo duluan”, terdengar suara dari bawa, tak lama kulihat wajah Deden yang kelelahan.
“Kalau telat dikit gue udah mati! Orang mau mati elo masih becanda”, Deden kesal.
Giliran Aria naik, wajahnya sama kelelahannya dengan Deden, “Men, kalau kejadian begini lagi elo jangan pake becanda”.

“Belatinya tumpul, elo coba aja”, kataku sambil menyerahkan kepada mereka untuk mencoba memotong akar.
“Tumpul kok”, Deden bilang ke Aria.
“Ini belati tongkrongannya keren nggak taunya tumpul”, komentar Aria setelah mencoba.

“Men, kalau nggak ada elo, gue sama Aria udah mati! Terima kasih ya!”, Deden.
Kamipun melalnjutkan perjalanan, pasti sudah tertinggal jauh dengan yang di depan.
Tak berapa lama Deden mengoreksi kalimat syiriknya, “Men, gue sama Aria masih hidup bukan gara-gara ditolong sama elo, tapi karena Allah yang menyelamatkan”.

Karena kuasa Sang Maha Pencipta, kami bisa tetap bersahabat hingga kini.

Diperjalanan kami sepakat untuk merahasiakan kejadian tadi, khawatir kisah ini diketahui pihak sekolah, sehingga larangan mendaki gunung semakin menjadi.

Setelah 30 tahun lebih, rahasia aku ungkapkan melalui blog, untuk itu maafkan aku ya Aria, Deden,Pipin dan Ita kalau rahasia kini terkuak.

Sebetulnya jaket, baju dan celana kami bisa disambung menjadi seutas tali, tapi masa sih aku meminta Pipin dan Ita menanggalkan pakaian mereka. Sebetulnya nggak apa juga, kan dalam keadaan darurat!.

Arti Sebuah Nama

Kisah nilai ujian Nursyamsi Kurnia '81 dinego wali kelas

Walaupun sudah lebih 30 tahun berpisah suasana gila Apadela, 2 IPA 8, masih tersisa di kepala, makanya Andrina mengadakan acara Temu Jidat Apadela: Kongkow Bandung. Waktu Andrina bertanya, “Pesertanya disuruh bayar berapa?”.
Aku jawab aja, “Gratis”.
“Nggak ah!, harus bayar!”.
“Ya udah, bayar gocap”.

Rio menepati janjinya datang ke Gedung YTKI sebelum kami berangkat, penampilannya masih necis seperti 30 tahun lalu, zaman di SMA baju seragamnya nggak pernah keluar dari celana, sebentar-bentar dirapikan. Dia memakai topi dan nggak pernah dilepas sampai kami berangkat, Ady si anak mama berkomentar, “Jangan-jangan udah botak”.

Bersama Nursyasi, Rio, Willem, Budi, Uun dan Tatik

Nursyamsi datang dengan membawa payung besar warna-warni dan ransel berisi jas hujan, “Kata panitia disuruh bawa payung dan jas ujan, ya aku bawalah!”, dan dia satu-satunya peserta yang membawa perlengkapan itu, panitianya aja nggak.

Bis baru masuk gigi 1, suasana gila dimulai, buka-buka rahasia, ketika Syamsi membaca daftar nama dan alamat 2 IPA 8, dia bilang, “Men, kalau Syamsi itu nama aku kelas 3, waktu kelas 1 dan 2 namaku Nursyamsi, di ijazah namaku juga Nursyamsi”.
“Kok, elo ganti-ganti nama.???”.


Nursyamsi mulai bercerita. Kalau dia sering bilang lupa, harap maklum aja ingatannya nggak jauh. Coba bayangkan kelas berapa aja dia lupa, wali kelasnya siapa dia lupa, pacarnya di SMA aja dia lupa, malahan dia pernah bertanya, “Men, dulu yang aku pacarin siapa ya?”. Kelewatan!. Jangan-jangan dia bukan anak SMA 8.


Saat di kelas 3, dia sekelas dengan Sugiarto Jaya, orang paling pinter di angkatan 81. Nah, dengan menggunakan nama Syamsi Kurnia, daftar hadir Nursyamsi persis di bawah nama Sugiarto. Otomatis waktu ujian dia berdekatan dengan Sugiarto.
“Logika aku dari dulu juga udah jalan!”, Nursyamsi melanjutkan.
Kamipun tertawa melihat gaya bicaranya yang lucu.

Keberuntungan berpihak kepadanya, saat ujian akhir posisi bangku Nursyamsi persis di belakang Sugiarto, mantap!.


    • Willem Teddy Usmany Ayo Apadela kita naik2 kepuncak gunung.
      Msh kuat sprti 30 th lalu. Hehehe....!!
Seminggu setelah ujian berakhir dia dipanggil wali kelas, karena hasil ujiannya sangat mencengangkan, nilainya fantastis.
“Syamsi melihat hasil ujian, kamu punya 2 pilihan”, kata wali kelas, “Ujian kamu diulang atau nilai ujian kamu dikurangi 2 semuanya”.

Dijatuhi 2 pilihan seperti itu Nursyamsi tetap bersikap tenang, jawaban kepada wali kelas enteng aja, “Jangan dong pak ujiannya diulang, kalau nilai di ijazah bapak atur-atur aja deh!, yang penting saya lulus”.

Komentar Himawan:
Men, waktu nilai ujian diumumkan Syamsi masih tetep tersenyum puas walau masing-masing pelajaran udah dikurangin 2, masalahnya masih rata-rata 8, masih dapet profit 30% ... He he he lumayan.

Kongkow Bandung

Buat photographer sebuah gambar bisa berbicara lebih dari sejuta kata, aku coba deh kalau begitu. Kali ini aku tidak menulis tetapi menggabungkan gambar menjadi cerita ditemani sahabatku Phil Collins yang melantunkan True Colors.

Terus terang bukan aku yang buat tetapi Karra si sulung, dia pernah menawarkan untuk membuatkan video clip. Empat hari setelah Kongkow Bandung tangannya menengadah, aku menangkap maksudnya, aku serahkan flash disc dari Aria berupa 172 foto.

Nggak semua foto bisa dimuat, aku pilihkan beberapa, komentarnya kepada mamanya,” Ma, yang nggak ada papanya fotonya dicoret”. Sengaja aku tulis kalimat itu untuk sekedar mengingatkan kalau motret ngajak-ngajak.

Soul dari video clip ini sederhana aja, “Smandel nan kompak”. Enjoy the show, keren kok!



Friday, January 27, 2012

Assalamualaikum Pak Haji


Aku rajin banget mengumpulkan alamat dan nomor telpon, hasilnya banyak kawan angkatanku melakukan reuni kelas. Pernah aku ditelpon Manca yang kelasnya mau reunian di rumah Erlinawati di Bogor.
“Men, dateng dong reunian di Bogor”.
“Gue kan bukan kelas 2 IPA 6”.
“Tapi kan elo anggota kehormatan 2 IPA 6”.
Sayang aku nggak bisa ikut gara-gara sakit typus, penyakitnya orang miskin.

Lain halnya dengan urusan foto lama, harapanku hampir pupus. Baru akhir tahun lalu ketika aku mampir di rumah masa kecilku, tiba-tiba kakakku Lela bilang, “Men, itu ada 3 album SMA aku tarok di pojokan ruang tivi”.
Aku buru-buru melihatnya. Satu album berisi naik gunung dan kemping bersama Apadela (2 IPA 8 ’81 dan 1 IPA 8 ’82), satu album reuni dan close-up kawan-kawan 2 IPA 8 dan satu album campuran. Sudah tentu aku seneng banget.

Aku lapor kepada kawanku, Apadelaers, mereka pada mau melihat. Ditetapkanlah tanggal 27 Januari 2012 pakai upacara makan-makan segala. Sungguh sayang bertepatan dengan demo buruh di Cikarang, jadi banyak yang terjebak macet, alasan yang bisa diterima. Aku sendiri meminta anakku nggak langsung pulang, kasihan mereka kalau terjebak macet, bisa BeTe, biar mereka pulang agak maleman bareng bapaknya.

Seru banget melihat foto lama bareng-bareng.
“Men, yang ini Benny siapa namanya, di kelas kita kan ada 2 Benny”, Uun bertanya
“Benny Respati”, jawabku sekenanya.
“Bukan Benny Respati. Kalau Benny Respati mah gue inget. Benny yang satunya lagi”.
Kami semua mendekat.
“Yang ini nih!”, Uun melanjutkan,sementara aku senyum-senyum kecil.
“Itu mah gue”, Benny Krisyanto menjawab.
“Oh iya elo. Nama elo siapa? Maksud gue Benny siapa?”, tanda-tanda uzur telah tiba.

Lain Uun lain pula Syamsi.
Syamsi telpon setelah aku menjemput Karris, my son, di jalan Cut Mutia, jadi ingat sop buntut. Nada suaranya sopan banget, “Assalamualaikum pak haji”.
“Waalaikum salam, Syamsi elo nggak kesana?”
“Justru itu pak haji, aku telpon. Aku nggak tahu ancer-ancernya”.
Akhirnya Syamsi sampai juga setelah mendapatkan arahan dariku. Ada Syamsi pasti ribut. Dia termasuk jenis manusia langka, punya hape enam biji tetapi tak satupun namaku di phone book-nya.
Tanpa merasa berdosa dia bilang. “Men, minta nomor hapenya dong!”.
“Lah, tadi kan elo nelpon gue”.
“Nggak ah, perasaan nggak pernah”.
“Tadi kan elo nanyain tempat ini”.
“Ooohh …., yang aku panggil pak haji ya?”.
“Tumben elo tadi manggil gue pak haji”.
“Jadi Omen ya yang aku panggil pak haji, aku pikir yang tadi aku telpon ustad Rory”.

Thursday, April 1, 2010

Ulang Tahun Edi Kumis

Seusai bel sekolah kami tidak lantas berhamburan pulang tapi berkumpul untuk berangkat bersama ke rumah Edi Kumis merayakan hari yang istimewa. Terntu saja kami mengajak ketua kelas Apadela alias 2 IPA 8.
“Wan kok elo pulang nggak ke rumah Kumis?”
”Gue pulang dulu dong! Mandi dulu baru biar keren kan Kumis ulang tahun”
Iwan lantas mengendarai motor vespa kesayangannya pulang ke rumahnya di Halim.
Kami beramai-ramai naik Metromini berwarna oranye menuju perumahan Bullet Warehouse alias Gudang Peluru.

Di rumah Kumis kami bercengkrama sampai puas walaupun tidak ada acara tiup lilin. Tapi kok si ketua kelas yang ditunggu-tunggu belum nongol juga.
Bercanda sudah bosen dan hari sudah petang, kami beranjak pulang sebelum peteng, tanpa diduga datang vespa persis berhenti di depan rumah Kumis dengan pengendara yang necis banget, maklum cuma dia sendiri yang sudah mandi dan nggak pakai seragam, keharuman minyak wangi si nyong-nyong menebar semerbak. Kedua ujung bibirnya ditarik ke atas, ceria banget kelihatannya.
“Wan, ngapain lo keren-keren amat!”
”Kan Edi Kumis ulang tahun!”
“Kena dikibulin satu kelas lo! Hari ini kan April Mob!”
Tak sampai sedetik kedua ujung bibir Iwan mengarah kebawah, kecut banget mukanya, keki banget pastinya, bayangkan ketua kelas dikerjain kawan-kawan sekelas. Kalau mau dibuat komplit pasti ada sebel, marah, malu dan teman-temannya hadir semua.

dakika: Uun, Ade, Tri, Nia, Fiera, Ratih, Dicky, Iwan, O, Ai, Benres, Adi, Deden

Masih dengan muka cemberut Iwan menghampiri biang keladinya, memang tidak sulit mencarinya karena semua telunjuk mengarah kepadaku.
“Men, biar April Mob kalau bohong tetep dosa! Pokoknya nggak gue maafin seumur-umur!”

Ketika aku ingatkan cerita 30 tahun lalu ini, kamipun tertawa bersama.
“Engak kok Men! Gue udah maafin dari dulu! Gue dulu sebagai ketua kelas kayaknya dikerjain terus sama elo!”


Buat Chormen yang nakal,

Kalau dipikir-pikir lucu juga loe yah, he he he. ( waktu itu Gw binggung, masa undangan Ulang Tahun ngak ada makanannya ?, waktu itu gw juga belum tahu, makhluk apa itu Aprilmob).
Jaman dulu Chormen suka jailin orang tapi sembunyi badan, korbannya pasti nggak cuma satu, siapa lagi Men ?
Ayo Men cerita lagi, biar kita bisa tambah inget lagi.
Temen-temen yang merasa jadi korban Chormen dimasa lalu, dapat mengadukan kasusnya kepada moderator, pengaduan dilayani 24 Jam setiap harinya.

salam,
himawan

Monday, January 19, 2009

Rebutan Isi Ransel

W.B. Iriansyah '83

Masa penjurusan di I 8 di tahun 1980 telah berlalu, saya masuk ke jurusan IPA dan beruntungnya masuk I IPA 8. Pada suatu pagi saat istirahat pertama, Benny Gaok beserta beberapa temannya secara informal bertanya kepada kami sekelas apakah ada yang mau bergabung masuk APADELA untuk ikut mendaki Gn. Gede pada hari Sabtu menjelang. Saya W.B Iriansyah atau biasa dipanggil Ian saat itu langsung setuju ikut pendakian, karena memang saya suka mendaki sejak SD (1976) dan juga sudah mengenal Benny beberapa tahun sebelumnya. Dari seluruh kelas I IPA 8 (angkatan 1983) hanya saya yang ikut serta.


Pada Sabtu yang ditentukan setelah pulang sekolah, saya ke rumah Benny Gaok di bilangan Tebet. Seperti biasa "anak2 gunung" pada tahun 70an dan awal 80an selalu menumpang truk gratis dari lampu merah Cililitan sampai ke Cimacan dan langsung ke Cibodas.

Setelah berdoa mulailah kami mendaki dari Pos di luar Taman Cibodas (kalau tidak salah pendakian dari dalam Taman Cibodas harus memiliki ijin dari PPA sejak 1978). Beberapa saat setelah melewati Kandang Batu, rombongan kami menemukan sebuah ransel besar yang ditinggal begitu saja di atas batu, setelah menunggu sejenak siapa tahu ada rombongan lain sebagai empunya ransel, kami pun mulai membedah ransel, beberapa tangan masuk ke dalam ransel termasuk saya dan Benny. "Ini buat gue" ujar Benny sambil memegang sweater dengan kualitas baik dan pasti mahal harganya, sedangkan yang lain mengambil jaket parasut. Giliran tangan saya masuk ke ransel langsung terasa sebuah botol dan saya ambil, "Yang ini buat gue" ternyata sebotol Martini yang masih utuh.

Beberapa anggota rombongan meminum Martini untuk mengusir rasa dingin dan disisakan 3/4nya. Karena saya yang memegang, maka sepanjang pendakian saya minum terus sampai habis yang menyebabkan saya mungkin agak mabuk (ya pastilah 3/4 botol Martini sendirian..hahaha). Saya baru benar tersadar saat sampai di Air Panas, Benny mulai mengikat pinggang kami satu persatu dengan tali yang terhubung satu dengan lainnya , sambil berujar "Hati-hati ya...badan condong ke kiri"...Air Panas dengan batuan yang licin...kalau jatuh ke sisi kanan berupa jurang pastilah "Good Bye" jadi saya fully konsentrasi, untuk menghilanglah pengaruh alkohol, ini urusan nyawa bung.

Dina Malik wrote at 19:02 on 27 February 2009
I can't get no....
Ian Gomper wrote at 20:00 on 27 February 2009
Inget aja loh...hehehe yes... no satisfaction....hahaha
Prahashinta Dewie wrote at 23:24 on 05 July 2009
Ooohh ini tho wajah Ian G....ya..ya..gw inget deh
Ian Gomper wrote at 23:26 on 05 July 2009
Ya iyalah Chin...sptnya satu kelas di 2ipa10 ya...

Setelah melewati Tanjakan Akar (sekarang oleh tim SMANDEL PAS 50 dinamakan Tanjakan Setan Ngehe), sampailah kami di puncak Gn. Gede, kami berkumpul menantikan Matahari Terbit sambil saling meledek dan bercanda.
Saat Matahari naik cukup tinggi, Benny memimpin Doa Bersama untuk keselamatan, "Oke kita sekarang turun" kata Benny sambil menunjuk ke arah Bibir Kawah.
Bibir Kawah...?? "Ben kita turun ke mana" tanya saya (biasanya saya naik Gn. Gede turun melalui rute yang sama yaitu Cibodas). "Cipendawa lewat Surya Kencana...ayo berangkat" jawabnya. Saya ikut saja.... sejurus langkah saya baru menyadari kenapa ada acara Doa Bersama lagi...ternyata perjalanan menuju Surya Kencana membuat nyali ketar-ketir...jalan setapak (lebar 50cm) sisi kiri kawah...sisi kanan jurang leher kawah...ditengah jalan kami sempat tiduran di sebuah ceruk yang hanya muat untuk satu orang...anginpun menerpa cukup kencang membuat badan kadang condong ke kanan dan kiri.

Tapi perjalanan meniti bibir kawah tidak percuma, semua terbayar dengan pemandangan spektakuler Surya Kencana...dari atas, bagi saya Surya Kencana bulat putih seperti bekas UFO mendarat. Kamipun mengambil sejumput kecil Edelweiss untuk kenangan. "Ambil sedikit aja, masukin kantong celana" ingat Benny

Di Pos Cipendawa bawaan kamipun diperiksa, tapi karena kami simpan di celana dan cuma sedikit, maka loloslah rombongan dari pemeriksaan. Tetapi terkejut kami ketika ada rombongan (sebuah sekolah di Jakarta- tidak etislah menyebut namanya..hehehe) menanyakan apakah kami menemukan sebuah ransel di perjalanan yang mereka tinggal karena tidak kuat untuk membawanya. Keruan dengan kompak kami menjawab tidak..hehehe...ya sudah..menurut hukum internasional harta karun yang berada di perairan internasional kan milik penemunya...ya kan...ya kan hahahaha.

Begitulah sedikit pengalaman saya dengan APADELA yang membuat saya dapat melihat dan menjejakkan kaki di SURYA KENCANA.

NB : Bagi yang merasa ikut rombongan pendakian ini dan punya fotonya boleh berbagi dengan saya